Jakarta, 10 September 2026 – Mikel Arteta menemukan cara baru untuk memaksimalkan Martin Odegaard dan perubahan tersebut langsung memberikan dampak besar bagi Arsenal pada awal Liga Champions 2026/2027. Sang kapten menjadi penentu kemenangan ketika The Gunners menaklukkan Napoli 1-0 di Stadion Diego Armando Maradona, Naples, Kamis, 10 September 2026 dini hari WIB. Odegaard mencetak satu-satunya gol pertandingan pada menit ke-75 setelah Arsenal berkali-kali gagal memanfaatkan peluang. Kemenangan tersebut tidak hanya menunjukkan kesabaran Arsenal ketika menghadapi pertahanan rapat Napoli, tetapi juga memperlihatkan evolusi peran Odegaard dalam sistem Arteta. Gelandang asal Norwegia itu kini semakin sering ditempatkan pada area yang memungkinkan dirinya menjadi penyelesai serangan, bukan hanya kreator.
Arsenal sebenarnya tampil dominan dalam sebagian besar pertandingan dan menghasilkan banyak peluang sejak babak pertama. Bukayo Saka, Mikel Merino, Eberechi Eze hingga Viktor Gyokeres terlibat dalam berbagai serangan yang dibangun dari penguasaan bola. Namun, Napoli mampu bertahan cukup disiplin dan beberapa peluang The Gunners berhasil digagalkan penjaga gawang Alex Meret. Arsenal akhirnya menyelesaikan pertandingan dengan 26 percobaan, jumlah tembakan terbanyak mereka dalam sebuah pertandingan Liga Champions sejak pencatatan data tersebut dimulai pada musim 2003/2004. Catatan expected goals mereka bahkan mencapai sekitar 4,05 sehingga kemenangan 1-0 sebenarnya tidak sepenuhnya menggambarkan besarnya peluang yang diciptakan.
Perbedaan akhirnya dibuat oleh Odegaard ketika pertandingan memasuki 15 menit terakhir. Christos Tzolis yang masuk sebagai pemain pengganti terlibat dalam kombinasi bersama Ben White sebelum bola diarahkan kepada kapten Arsenal tersebut. Odegaard mendapatkan ruang di sekitar tepi kotak penalti dan langsung melepaskan tembakan keras. Bola sempat mengenai tiang sebelum masuk ke gawang meskipun Vanja Milinkovic-Savic, yang menggantikan Meret pada babak kedua, berusaha melakukan penyelamatan. Gol tersebut menjadi hasil dari rangkaian serangan panjang Arsenal yang dibangun dengan sabar sebelum menemukan ruang di pertahanan Napoli.
Arteta menjelaskan peningkatan produktivitas Odegaard tidak terjadi secara kebetulan. Arsenal kini mempunyai lebih banyak pemain yang mampu membawa dan mengalirkan bola dari area yang lebih dalam. Kondisi tersebut membuat Odegaard tidak harus selalu turun untuk menjadi pemain pertama yang menghubungkan lini tengah dengan serangan. Sang kapten mendapatkan kebebasan untuk mengambil posisi pada ketinggian dan sudut berbeda ketika Arsenal menguasai bola. Perubahan sederhana itu membuat Odegaard lebih sering berada dekat kotak penalti ketika peluang mencetak gol muncul.
Angka memperlihatkan perubahan tersebut dengan cukup jelas. Musim lalu Odegaard rata-rata hanya mencatat sekitar 2,5 sentuhan di kotak penalti lawan per 90 menit. Pada awal musim 2026/2027, jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 4,3 sentuhan per 90 menit. Artinya, Odegaard semakin banyak terlibat langsung di wilayah yang berbahaya bagi pertahanan lawan. Ia tidak lagi hanya berdiri di luar kotak untuk memberikan umpan terakhir, tetapi juga bergerak masuk setelah serangan berkembang. Pola tersebut membuat lawan menghadapi dilema karena mengikuti pergerakannya dapat membuka ruang bagi pemain Arsenal lainnya.
Kebebasan Odegaard terlihat sepanjang pertandingan melawan Napoli. Ia terus bergerak mencari celah di antara lini tengah dan pertahanan tim asuhan Massimiliano Allegri. Ketika ruang tersedia, Odegaard mampu memberikan umpan yang memecah garis pertahanan, termasuk kesempatan yang diberikan kepada Saka menjelang turun minum. Pada babak kedua, umpan kreatifnya juga membantu membuka jalur serangan yang berujung pada peluang Piero Hincapie. Napoli kesulitan menentukan apakah harus menekan Odegaard lebih jauh dari gawang atau membiarkannya menerima bola di ruang antarlini.
Arteta mempunyai alasan lebih besar untuk memberikan kebebasan tersebut karena komposisi pemain Arsenal kini mampu berbagi tanggung jawab dalam progresi bola. Declan Rice dapat mengambil peranan ketika membangun permainan dari lini tengah, sementara pemain lain mampu membawa bola melewati tekanan pertama lawan. Kehadiran Tzolis juga memberikan dimensi baru karena pemain yang direkrut pada musim panas tersebut telah menunjukkan kemampuan menciptakan peluang. Tzolis telah menghasilkan empat assist pada awal musim dan tiga di antaranya berujung pada gol Odegaard. Hubungan tersebut memberikan Arsenal jalur serangan baru yang tidak terlalu bergantung pada satu sisi lapangan.
Perubahan peran itu menghasilkan transformasi signifikan terhadap produktivitas sang kapten. Odegaard telah mencetak empat gol dalam lima pertandingan di semua kompetisi musim ini. Jumlah tersebut sangat kontras dengan musim 2025/2026 ketika ia hanya mencetak satu gol sepanjang musim yang banyak terganggu masalah kebugaran. Arteta menilai kondisi fisik menjadi fondasi penting dari peningkatan performanya. Ketika tersedia secara konsisten dan berada dalam kondisi terbaik, Odegaard mempunyai kesempatan lebih besar untuk memahami hubungan baru dengan pemain di sekelilingnya sekaligus menjalankan peran yang lebih agresif.
Arteta juga melihat perubahan pada mentalitas Odegaard ketika berada di sekitar gawang. Sang gelandang dinilai semakin percaya bahwa dirinya dapat menjadi pemain yang menentukan pertandingan melalui gol. Kepercayaan diri tersebut terlihat ketika ia tidak ragu mengambil kesempatan menembak dari tepi kotak penalti di Naples. Sebelumnya, Odegaard kerap dikenal sebagai pemain yang mencari umpan tambahan ketika berada di posisi menyerang. Kini Arsenal mendorongnya untuk mengambil risiko lebih besar dan menjadi salah satu sumber gol dari lini kedua.
Perubahan tersebut semakin penting ketika penyerang utama Arsenal belum mampu memaksimalkan peluang. Gyokeres yang mendapatkan kesempatan sebagai starter belum memberikan dampak maksimal dan kemudian digantikan Kai Havertz menjelang gol Odegaard. Merino juga memperoleh peluang bagus pada babak pertama, sementara Saka dan Hincapie gagal menyelesaikan kesempatan yang seharusnya dapat membuat Arsenal unggul lebih cepat. Havertz bahkan sempat mencetak gol pada penghujung pertandingan, tetapi dianulir karena berada dalam posisi offside. Ketika para pemain lain tidak menemukan penyelesaian, Odegaard mengambil tanggung jawab sebagai pembeda.
Napoli sebenarnya mencoba mengubah pendekatan untuk menghentikan tekanan Arsenal. Allegri memperkuat struktur pertahanan dan pada fase tertentu membuat timnya bertahan dengan lima pemain di lini belakang. Perubahan tersebut dilakukan setelah Arsenal menguasai permainan secara sangat dominan pada awal babak kedua. Napoli berusaha mempersempit ruang di sekitar kotak penalti dan mengandalkan serangan balik melalui pemain seperti Kevin De Bruyne, Matteo Politano dan Rasmus Hojlund. Namun, pendekatan bertahan itu akhirnya tidak cukup karena pergerakan Odegaard memberikan Arsenal pemain tambahan yang sulit dilacak di area depan kotak penalti.
Kemenangan 1-0 sekaligus memberikan tiga poin pertama kepada Arsenal dalam perjalanan Liga Champions musim ini. Hasil tersebut terasa penting karena diperoleh di kandang Napoli yang mempunyai atmosfer kuat dan kualitas pemain berpengalaman. Arsenal datang dengan status finalis musim lalu setelah sebelumnya mampu memenangkan seluruh delapan pertandingan fase liga. Ambisi musim ini jelas meningkat karena Arteta ingin membawa timnya mengambil langkah terakhir yang belum berhasil dicapai. Kemampuan memenangkan pertandingan ketat seperti di Naples menjadi salah satu modal penting apabila The Gunners ingin kembali melaju jauh.
Peran baru Odegaard pada akhirnya menjadi salah satu perkembangan paling menarik dalam evolusi taktik Arsenal. Arteta tidak mengubah kaptennya menjadi penyerang murni, tetapi membebaskannya dari sebagian tanggung jawab progresi bola agar dapat muncul pada area yang lebih menentukan. Dengan pemain lain mampu membawa bola ke depan, Odegaard bisa mencari ruang, bergerak di antara lini, menciptakan peluang sekaligus datang terlambat untuk menyelesaikan serangan. Empat gol dalam lima pertandingan menunjukkan perubahan tersebut sudah memberikan hasil nyata pada awal musim. Jika produktivitas itu dapat dipertahankan, Arsenal tidak hanya mempunyai Odegaard sebagai otak permainan, tetapi juga sumber gol tambahan yang dapat menjadi senjata penting dalam perburuan gelar Liga Champions 2026/2027.