Jakarta, 29 Agustus 2026 – Banjir bandang dan tanah longsor dahsyat menerjang kawasan perbatasan Nepal dan Tibet, China, pada Rabu (26/8/2026). Bencana yang terjadi di kawasan Himalaya tersebut menimbulkan kerusakan besar, merenggut ratusan korban jiwa, serta membuat lebih dari seribu orang masih belum ditemukan.
Bencana terjadi di tengah kondisi geografis Himalaya yang rawan terhadap longsor, banjir bandang, dan perubahan kondisi gletser. Arus air bercampur es, batu, lumpur, dan material longsoran menerjang lembah serta permukiman dengan kekuatan besar.
1. Bencana Terjadi di Perbatasan Nepal-Tibet
Wilayah yang terdampak berada di sepanjang perbatasan Nepal dengan Daerah Otonom Tibet, China. Salah satu kawasan yang mengalami kerusakan parah adalah Distrik Rasuwa di Nepal serta wilayah Gyirong di Tibet.
Arus banjir menghantam permukiman, jalan, jembatan, fasilitas energi, hingga sejumlah infrastruktur penting yang menghubungkan kedua wilayah.
Kerusakan tersebut membuat akses menuju sejumlah lokasi bencana menjadi sangat sulit. Puluhan kilometer jalan dilaporkan rusak atau hilang sehingga tim penyelamat harus menggunakan helikopter untuk menjangkau beberapa titik yang terisolasi.
2. Diduga Dipicu Runtuhnya Gletser
Salah satu faktor utama yang diduga memicu bencana adalah runtuhnya bagian gletser di kawasan Himalaya. Material berupa es, air, batu, dan lumpur kemudian bergerak turun ke lembah dan menyebabkan banjir bandang dengan daya rusak besar.
Peristiwa tersebut menunjukkan bagaimana perubahan kondisi lingkungan di wilayah pegunungan dapat memicu bencana berantai. Runtuhan material dari kawasan tinggi dapat membendung sungai, mengubah aliran air, kemudian menghasilkan gelombang banjir yang bergerak cepat ke wilayah yang lebih rendah.
3. Korban Jiwa Terus Bertambah
Jumlah korban terus berubah seiring pencarian dilakukan di wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau. Pada Jumat (28/8), laporan dari berbagai otoritas menunjukkan jumlah korban tewas telah mencapai lebih dari 500 orang di Nepal dan Tibet.
Salah satu pembaruan menyebut 547 orang telah dikonfirmasi meninggal di Nepal, sementara korban di Tibet juga tercatat. Selain korban tewas, lebih dari seribu orang masih dinyatakan hilang.
Angka tersebut masih dapat berubah karena proses identifikasi dan pencarian korban terus berlangsung.
4. Banyak Warga Asing Ikut Hilang
Bencana tidak hanya menimpa warga lokal. Sejumlah warga negara asing juga berada di kawasan terdampak ketika banjir dan longsor terjadi.
Sebagian di antaranya merupakan wisatawan, pekerja, pemandu pendakian, maupun peziarah yang melakukan perjalanan menuju kawasan Himalaya.
Laporan terbaru menyebut ratusan warga asing termasuk dalam daftar orang yang belum ditemukan. Kondisi tersebut membuat sejumlah negara turut melakukan koordinasi untuk memastikan keberadaan warganya.
5. Infrastruktur Hancur
Dampak bencana terlihat pada berbagai jenis infrastruktur. Rumah-rumah tersapu arus, jalan terputus, sementara jembatan yang menjadi penghubung antarkawasan ikut rusak.
Lebih dari 40 jembatan dilaporkan hancur atau mengalami kerusakan berat. Selain itu, lebih dari 40 kilometer jalan juga rusak akibat terjangan banjir dan longsor.
Kerusakan infrastruktur tersebut menjadi salah satu hambatan utama dalam proses evakuasi dan distribusi bantuan.
6. Muncul Danau Penghalang Baru
Bencana juga memicu terbentuknya danau penghalang atau barrier lake akibat material longsoran yang membendung aliran sungai.
Danau tersebut menjadi perhatian serius karena air terus bertambah dan bendungan alami yang terbentuk dari material longsor dapat sewaktu-waktu jebol. Jika hal itu terjadi, gelombang air baru berpotensi menerjang wilayah di sepanjang aliran sungai.
Otoritas Nepal dan China pun meningkatkan pemantauan terhadap kondisi danau tersebut untuk mengantisipasi banjir susulan.
7. Operasi Penyelamatan Sempat Dihentikan
Tim penyelamat menghadapi risiko besar selama melakukan pencarian korban. Ancaman longsor dan meluapnya danau penghalang sempat membuat operasi penyelamatan dihentikan sementara di sejumlah lokasi.
Setelah kondisi dinilai lebih memungkinkan, operasi kembali dilakukan. Tim penyelamat harus bekerja di tengah lumpur tebal, jalan yang rusak, serta kemungkinan terjadinya banjir susulan.
Situasi tersebut membuat proses pencarian korban berlangsung sangat menantang, terutama di daerah yang akses daratnya sudah terputus.
8. Puluhan Ribu Orang Membutuhkan Bantuan
Bencana ini memberikan dampak yang jauh lebih luas dibandingkan jumlah korban meninggal dan hilang. Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah memperkirakan sedikitnya 93.000 orang terdampak dan membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Kebutuhan mendesak mencakup tempat tinggal, makanan, layanan kesehatan, air bersih, serta dukungan bagi masyarakat yang kehilangan rumah dan akses transportasi.
Besarnya jumlah warga terdampak membuat operasi kemanusiaan harus berjalan bersamaan dengan pencarian dan penyelamatan korban.
9. Risiko Bencana Susulan Masih Ada
Ancaman belum berakhir meski air mulai surut di sejumlah lokasi. Keberadaan danau penghalang serta kondisi lereng yang masih tidak stabil meningkatkan risiko terjadinya banjir dan longsor susulan.
Selain itu, kerusakan fasilitas kesehatan dan terganggunya sanitasi dapat meningkatkan risiko munculnya persoalan kesehatan di antara para pengungsi dan warga yang terdampak.
Karena itu, otoritas Nepal dan China masih melakukan pemantauan intensif terhadap kawasan bencana sambil melanjutkan proses evakuasi dan pencarian korban.
10. Upaya Pencarian Terus Berlanjut
Ribuan personel keamanan dan tim penyelamat dikerahkan untuk mencari korban serta mengevakuasi warga yang terjebak. Helikopter menjadi salah satu sarana penting karena banyak jalur darat tidak lagi dapat digunakan.
Tim penyelamat juga harus berpacu dengan waktu untuk menemukan korban yang kemungkinan masih bertahan di lokasi terpencil. Pada saat yang sama, pemerintah terus memantau potensi ancaman baru agar operasi tidak menimbulkan korban tambahan.
Banjir bandang dan longsor Nepal-Tibet pada 26 Agustus 2026 diduga berkaitan dengan runtuhnya gletser di kawasan Himalaya. Bencana tersebut menghancurkan permukiman dan infrastruktur, menewaskan lebih dari 500 orang, serta menyebabkan lebih dari seribu orang hilang. Ancaman banjir susulan dari danau penghalang yang terbentuk akibat longsoran membuat operasi pencarian dan penyelamatan masih menghadapi tantangan besar.