Jakarta, 30 Agustus 2026 – Pergerakan investor asing di pasar saham Indonesia kembali menjadi perhatian setelah mencatatkan aksi beli bersih atau net buy sebesar Rp2,41 triliun sepanjang perdagangan 24-28 Agustus 2026. Aliran dana tersebut terjadi ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya bergerak terbatas dan pada akhir pekan justru mengalami koreksi tipis. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun pergerakan indeks belum terlalu kuat, investor asing tetap melihat peluang pada sejumlah saham dengan kapitalisasi besar dan likuiditas tinggi.
Pada perdagangan Jumat (28/8), IHSG ditutup melemah tipis 0,05 persen atau sekitar 3,62 poin ke level 6.518,12. Namun, jika dihitung secara keseluruhan dalam sepekan, indeks masih mampu mencatatkan penguatan sekitar 0,25 persen. Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa pasar saham domestik relatif stabil meski investor masih menghadapi berbagai sentimen dari dalam maupun luar negeri. Di tengah kondisi tersebut, aktivitas investor asing justru menjadi salah satu faktor yang cukup menarik perhatian karena nilai pembelian bersihnya mencapai triliunan rupiah.
Aksi beli asing tersebut juga menunjukkan adanya kecenderungan akumulasi pada saham-saham berkapitalisasi besar atau big cap. Kelompok saham ini biasanya memiliki likuiditas tinggi dan menjadi pilihan investor institusi karena transaksi dalam jumlah besar dapat dilakukan dengan relatif lebih mudah. Saham perbankan besar menjadi salah satu kelompok yang paling banyak mendapatkan aliran dana asing, memperlihatkan bahwa sektor keuangan masih menjadi salah satu tujuan utama investor global di pasar modal Indonesia.
Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk atau DSSA menjadi emiten yang mencatatkan net buy asing terbesar selama sepekan. Nilai pembelian bersih asing pada saham tersebut mencapai sekitar Rp1,35 triliun. Besarnya nilai tersebut membuat DSSA berada jauh di atas sejumlah saham lain dalam daftar akumulasi asing. Pergerakan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena nilai transaksi yang besar menunjukkan adanya aktivitas pembelian yang cukup signifikan terhadap saham perusahaan tersebut.
Setelah DSSA, sejumlah bank besar juga masuk dalam jajaran saham yang paling banyak diborong investor asing. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk atau BBRI mencatatkan net buy asing sekitar Rp460,5 miliar. Kemudian PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA mendapatkan pembelian bersih sekitar Rp380,2 miliar, sedangkan PT Bank Mandiri Tbk atau BMRI mencatatkan net buy sekitar Rp347,61 miliar. Ketiga saham tersebut merupakan bagian dari kelompok perbankan besar yang selama ini menjadi perhatian investor karena memiliki skala bisnis dan kapitalisasi pasar yang besar.
Besarnya aliran dana ke saham perbankan menunjukkan bahwa investor asing masih melihat sektor keuangan sebagai salah satu area penting dalam pasar saham Indonesia. Bank-bank besar memiliki basis nasabah yang luas, jaringan bisnis yang kuat, serta peran penting dalam aktivitas ekonomi nasional. Ketika investor asing melakukan akumulasi pada saham-saham tersebut, pergerakannya dapat menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pelaku pasar untuk membaca perubahan sentimen terhadap prospek sektor keuangan.
Namun, aksi beli asing tidak hanya terkonsentrasi pada sektor perbankan. Saham pertambangan juga mendapatkan perhatian cukup besar. PT Aneka Tambang Tbk atau ANTM mencatatkan pembelian bersih asing sekitar Rp270,59 miliar, sementara PT Amman Mineral Internasional Tbk atau AMMN memperoleh net buy sekitar Rp263,8 miliar. Minat terhadap saham berbasis komoditas tersebut menunjukkan bahwa sektor pertambangan masih memiliki daya tarik ketika investor melihat peluang dari perkembangan harga komoditas maupun prospek bisnis perusahaan.
Di sektor telekomunikasi, PT XL SMART Telecom Sejahtera Tbk atau EXCL juga masuk dalam daftar saham yang banyak dibeli investor asing. Nilai net buy pada saham tersebut mencapai sekitar Rp235,87 miliar. Sementara itu, PT Bumi Resources Minerals Tbk atau BRMS mencatatkan pembelian bersih sekitar Rp225,82 miliar. Masuknya berbagai sektor ke dalam daftar saham yang diborong menunjukkan bahwa strategi investor asing tidak hanya berfokus pada satu kelompok industri, tetapi menyebar ke sejumlah perusahaan yang dianggap memiliki prospek atau daya tarik tertentu.
Investor asing juga melakukan pembelian pada saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk atau PSAB dengan nilai sekitar Rp138,19 miliar. Selain itu, PT Merdeka Copper Gold Tbk atau MDKA mencatatkan net buy sekitar Rp105,16 miliar. Dengan demikian, sektor sumber daya alam dan pertambangan kembali terlihat cukup dominan dalam aktivitas akumulasi asing. Pergerakan tersebut menjadi semakin menarik karena saham komoditas biasanya sangat sensitif terhadap perubahan harga bahan tambang, kondisi ekonomi global, serta ekspektasi terhadap permintaan dari negara-negara besar.
Meskipun secara mingguan mencatatkan net buy yang cukup besar, investor asing pada perdagangan Jumat justru melakukan aksi jual bersih. Nilai net sell asing pada hari terakhir perdagangan tersebut mencapai sekitar Rp482,24 miliar di seluruh pasar. Kondisi ini menunjukkan bahwa arus dana asing tidak bergerak satu arah setiap hari. Investor dapat melakukan pembelian dalam jumlah besar selama beberapa hari kemudian mengambil sebagian keuntungan atau mengurangi posisi ketika kondisi pasar berubah.
Perbedaan antara aktivitas harian dan mingguan tersebut penting untuk diperhatikan ketika membaca pergerakan modal asing. Aksi jual pada satu hari tidak otomatis berarti investor asing telah meninggalkan pasar Indonesia. Sebaliknya, net buy besar dalam satu pekan juga tidak selalu berarti seluruh saham akan bergerak naik. Investor institusi dapat melakukan rotasi portofolio dengan menjual sejumlah saham sekaligus membeli saham lainnya sesuai dengan strategi yang mereka gunakan. Karena itu, angka net buy perlu dilihat bersama dengan pergerakan harga, volume transaksi, kondisi fundamental, serta sentimen pasar secara keseluruhan.
Bagi investor domestik, derasnya pembelian asing pada saham-saham big cap dapat menjadi salah satu informasi tambahan dalam menentukan strategi investasi. Saham yang mendapatkan akumulasi besar memang dapat menarik perhatian karena menunjukkan adanya permintaan yang kuat. Namun, keputusan investasi tetap membutuhkan pertimbangan yang lebih menyeluruh. Pergerakan dana asing bersifat dinamis dan dapat berubah dengan cepat mengikuti kondisi ekonomi global, nilai tukar, kebijakan suku bunga, maupun perkembangan perusahaan masing-masing.
Kondisi IHSG yang hanya menguat tipis sepanjang pekan juga memperlihatkan bahwa derasnya aliran dana asing belum sepenuhnya mampu mendorong indeks bergerak agresif. Hal tersebut dapat terjadi karena pembelian asing terkonsentrasi pada saham tertentu sementara saham lainnya mengalami tekanan jual. Dengan demikian, investor perlu melihat struktur pergerakan pasar secara lebih rinci daripada hanya memperhatikan angka IHSG. Pergerakan masing-masing sektor dan saham dapat memberikan gambaran yang berbeda mengenai arah pasar.
Saham-saham bank besar tetap menjadi salah satu pusat perhatian karena tiga emiten utama, yakni BBRI, BBCA, dan BMRI, sekaligus masuk dalam jajaran teratas net buy asing. Jika digabungkan, nilai pembelian bersih asing pada ketiga bank tersebut mencapai lebih dari Rp1,18 triliun dalam sepekan. Angka tersebut menunjukkan besarnya minat terhadap saham perbankan berkapitalisasi besar dan memperlihatkan bahwa sektor keuangan masih menjadi salah satu bagian penting dalam strategi akumulasi investor asing.
Di sisi lain, investor juga perlu memperhatikan bahwa aksi borong asing tidak menjamin kenaikan harga saham secara otomatis. Harga saham tetap dipengaruhi oleh keseimbangan permintaan dan penawaran serta berbagai informasi baru yang masuk ke pasar. Bahkan, saham yang mendapatkan net buy besar tetap dapat mengalami koreksi apabila sentimen berubah atau sebagian investor memilih merealisasikan keuntungan. Oleh sebab itu, angka pembelian asing lebih tepat dipandang sebagai salah satu indikator sentimen, bukan sebagai sinyal tunggal untuk mengambil keputusan.
Pergerakan selama sepekan terakhir memberikan gambaran bahwa pasar saham Indonesia masih menjadi perhatian investor asing meskipun kondisi IHSG belum menunjukkan penguatan yang besar. Dana sebesar Rp2,41 triliun yang masuk melalui aksi beli bersih memperlihatkan adanya aktivitas akumulasi pada sejumlah saham pilihan. DSSA menjadi tujuan terbesar, sementara saham perbankan seperti BBRI, BBCA, dan BMRI turut menjadi sasaran utama. Saham pertambangan, telekomunikasi, serta sejumlah emiten lainnya juga ikut mendapatkan aliran dana.
Ke depan, arah arus modal asing masih akan menjadi salah satu hal yang menarik untuk dicermati. Investor akan melihat apakah aksi akumulasi tersebut berlanjut pada pekan berikutnya atau justru berubah menjadi aksi ambil untung. Jika pembelian terus berlanjut dan diikuti penguatan saham-saham yang menjadi sasaran, kondisi tersebut dapat memberikan dukungan tambahan bagi IHSG. Sebaliknya, apabila tekanan jual kembali meningkat, pasar perlu bersiap menghadapi volatilitas yang lebih tinggi.
Dengan demikian, aksi net buy asing sebesar Rp2,41 triliun dalam sepekan menjadi sinyal bahwa investor global masih menemukan sejumlah peluang di pasar saham Indonesia. Fokus pembelian yang terlihat pada saham big cap, terutama perbankan dan pertambangan, memperlihatkan adanya preferensi terhadap emiten dengan skala bisnis besar serta likuiditas yang relatif tinggi. Meski demikian, pergerakan dana asing tetap perlu dipantau secara berkala karena strategi investor dapat berubah mengikuti kondisi pasar dan perkembangan ekonomi.