Jakarta, 17 September 2026 – Tidur tanpa menggunakan bantal terkadang dianggap dapat membuat posisi tubuh terasa lebih alami dan membantu mengurangi keluhan tertentu. Namun, manfaat kebiasaan tersebut sebenarnya sangat bergantung pada posisi tidur, bentuk tubuh, kondisi tulang belakang, serta kenyamanan masing-masing orang. Tidur tanpa bantal tidak otomatis lebih sehat dibandingkan menggunakan bantal. Bagi sebagian orang, terutama yang terbiasa tidur tengkurap, menghilangkan atau menggunakan bantal yang sangat tipis dapat membantu mengurangi sudut berlebihan pada leher. Sebaliknya, orang yang tidur telentang atau menyamping umumnya tetap membutuhkan penyangga untuk menjaga kepala, leher, dan tulang belakang berada pada posisi yang nyaman. Karena itu, munculnya rasa pegal setelah tidur tanpa bantal sangat mungkin terjadi apabila posisi leher tidak mendapatkan dukungan yang sesuai.
Fungsi utama bantal sebenarnya bukan sekadar memberikan rasa empuk ketika tidur. Bantal membantu mengisi jarak antara kepala dengan permukaan kasur sehingga posisi leher dapat dipertahankan mendekati keselarasan dengan bagian tulang belakang lainnya. Kebutuhan terhadap ketebalan bantal berbeda berdasarkan posisi tidur. Orang yang tidur menyamping biasanya membutuhkan bantal lebih tebal karena terdapat jarak antara kepala dan kasur akibat lebar bahu. Sementara orang yang tidur telentang umumnya membutuhkan bantal dengan ketebalan lebih rendah. Pemilihan yang tepat dapat membantu mencegah kepala terlalu menunduk atau terlalu mendongak selama berjam-jam.
Tidur tanpa bantal kemungkinan lebih sesuai bagi sebagian orang yang memiliki kebiasaan tidur tengkurap. Pada posisi tersebut, kepala harus diputar ke salah satu sisi agar seseorang dapat bernapas dengan nyaman. Bantal yang terlalu tinggi dapat semakin mengangkat kepala dan meningkatkan sudut pada bagian leher. Menghilangkan bantal atau menggantinya dengan bantal yang sangat tipis dapat mengurangi ketinggian tersebut. Meski demikian, tidur tengkurap sendiri tetap dapat memberikan tekanan pada leher karena kepala berada dalam posisi berputar untuk waktu yang cukup panjang. Oleh karena itu, tidak semua orang yang tidur tengkurap akan otomatis merasa lebih nyaman ketika tidak menggunakan bantal.
Bagi orang yang tidur telentang, penggunaan bantal biasanya membantu menopang lengkungan alami pada leher. Apabila bantal dihilangkan, posisi kepala dapat menjadi terlalu rendah terhadap tubuh pada sebagian orang. Kondisi tersebut dapat membuat otot leher bekerja dalam posisi yang kurang nyaman selama tidur. Sebaliknya, bantal yang terlalu tinggi juga dapat mendorong kepala terlalu jauh ke depan dan menimbulkan ketegangan. Hal serupa berlaku pada posisi menyamping, tetapi kebutuhan terhadap penyangga biasanya lebih besar. Tanpa bantal, kepala orang yang tidur menyamping dapat turun menuju kasur sehingga leher tidak lagi sejajar dengan bagian tulang belakang lainnya.
Pertanyaan apakah tidur tanpa bantal dapat menyebabkan pegal karena itu tidak memiliki satu jawaban untuk semua orang. Pegal dapat muncul ketika otot, sendi, atau jaringan di sekitar leher berada dalam posisi yang tidak nyaman selama beberapa jam. Seseorang mungkin bangun dengan leher kaku, bahu terasa tegang, atau kesulitan menggerakkan kepala secara bebas. Keluhan juga dapat muncul karena kasur, posisi tangan, kebiasaan tidur, maupun aktivitas sehari sebelumnya dan bukan semata-mata karena penggunaan bantal. Apabila rasa pegal justru berulang setelah seseorang mulai tidur tanpa bantal, kondisi tersebut dapat menjadi petunjuk bahwa posisi tersebut kurang sesuai bagi tubuhnya.
Kenyamanan ketika bangun tidur dapat digunakan sebagai salah satu pertimbangan sederhana dalam menentukan kebutuhan bantal. Seseorang yang bangun tanpa nyeri dan merasa lehernya nyaman kemungkinan telah menemukan kombinasi posisi tidur, kasur, dan bantal yang sesuai. Tidak ada keharusan menghilangkan bantal hanya karena terdapat anggapan bahwa tidur tanpa bantal lebih alami. Sebaliknya, menggunakan bantal juga tidak berarti semakin tebal akan semakin baik. Tujuan utamanya adalah mendapatkan dukungan yang memungkinkan kepala dan leher berada dalam posisi netral selama tidur. Bentuk bahu, ukuran kepala, serta tingkat kelembutan kasur dapat memengaruhi kebutuhan tersebut.
Jenis kasur juga dapat mengubah kebutuhan terhadap ketebalan bantal. Pada kasur yang relatif empuk, tubuh dan bahu dapat tenggelam lebih dalam sehingga jarak antara kepala dengan permukaan tempat tidur ikut berubah. Kasur yang lebih keras membuat tubuh tidak banyak tenggelam sehingga kebutuhan penyangga kepala dapat berbeda. Hal ini menjelaskan mengapa bantal yang terasa nyaman pada satu tempat tidur belum tentu memberikan pengalaman serupa ketika digunakan pada kasur lain. Kombinasi antara kasur dan bantal perlu dilihat sebagai satu sistem penyangga tubuh. Posisi tidur yang paling sering digunakan kemudian menjadi faktor berikutnya yang perlu dipertimbangkan.
Orang yang ingin mencoba tidur tanpa bantal sebaiknya memperhatikan respons tubuh setelah bangun. Perubahan dapat dicoba secara bertahap, misalnya menggunakan bantal lebih tipis terlebih dahulu daripada langsung menghilangkannya. Apabila muncul nyeri baru, kekakuan, sakit kepala setelah bangun, atau rasa tidak nyaman yang terus berulang, posisi tidur perlu dievaluasi. Kembali menggunakan bantal dengan ketebalan yang sesuai dapat menjadi pilihan apabila tubuh terasa lebih nyaman dengannya. Orang yang telah memiliki masalah pada leher atau tulang belakang sebaiknya tidak mengubah kebiasaan tidur hanya berdasarkan tren tanpa mempertimbangkan kondisi masing-masing.
Selain bantal, kualitas tidur secara keseluruhan tetap menjadi faktor yang jauh lebih penting. Durasi tidur yang cukup, jadwal tidur teratur, lingkungan kamar yang nyaman, dan posisi tubuh yang tidak menimbulkan nyeri ikut menentukan kualitas istirahat. Seseorang dapat menggunakan bantal yang dianggap ideal tetapi tetap bangun dalam kondisi tidak segar apabila durasi tidurnya terlalu singkat. Begitu pula tidur tanpa bantal tidak memberikan keuntungan khusus apabila membuat seseorang sering terbangun karena tidak nyaman. Pilihan perlengkapan tidur seharusnya membantu tubuh mempertahankan posisi yang nyaman dan memungkinkan tidur berlangsung tanpa banyak gangguan.
Tidur tanpa bantal pada akhirnya bukan kebiasaan yang harus dilakukan semua orang untuk mendapatkan manfaat kesehatan. Pilihan tersebut mungkin terasa lebih nyaman bagi sebagian orang, khususnya beberapa orang yang tidur tengkurap dan merasa bantal membuat posisi kepalanya terlalu tinggi. Namun, orang yang tidur menyamping atau telentang biasanya tetap membutuhkan penyangga dengan ketebalan yang disesuaikan agar leher tidak berada dalam posisi yang kurang nyaman. Rasa pegal memang dapat terjadi apabila tidur tanpa bantal membuat kepala dan leher kehilangan dukungan yang dibutuhkan. Sebaliknya, bantal yang terlalu tinggi atau terlalu keras juga dapat menimbulkan masalah serupa. Kunci utamanya bukan tidur dengan atau tanpa bantal, melainkan menjaga posisi kepala, leher, dan tulang belakang tetap nyaman selama beristirahat.