Jakarta, 6 September 2026 – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mendominasi kejadian bencana di sejumlah wilayah Indonesia hingga akhir pekan pertama September 2026. Dalam periode Jumat hingga Sabtu, 4–5 September, kejadian baru karhutla dilaporkan mulai dari Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Utara, Jawa Timur hingga Sulawesi Tengah. Kondisi tersebut membuat penanganan kebakaran tetap menjadi salah satu perhatian utama pemerintah di tengah berlangsungnya musim kemarau. Enam provinsi bahkan menjadi prioritas penguatan penanganan, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat. Operasi darat dan udara terus dilakukan untuk mencegah kebakaran meluas, terutama pada kawasan gambut dan wilayah yang sulit dijangkau. Kesiapsiagaan juga diperkuat karena titik api yang sudah dipadamkan masih berpotensi kembali menyala apabila proses pendinginan tidak dilakukan secara menyeluruh.
Salah satu kejadian terbaru dilaporkan di Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung, pada Jumat. Kebakaran menghanguskan sekitar 17,81 hektare lahan yang tersebar di Desa Buding, Kecamatan Kelapa Kampit, Desa Padang di Kecamatan Manggar, serta Desa Sukamandi di Kecamatan Damar. Tim gabungan melakukan pemadaman dan pendinginan sampai kondisi di lokasi dinyatakan aman dan terkendali. Kejadian tersebut menambah daftar karhutla yang terjadi di Bangka Belitung dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, kebakaran juga terjadi di Kabupaten Bangka Barat pada Kamis malam dan berdampak terhadap sekitar 8,5 hektare lahan. Area yang terdampak tersebar di Desa Air Putih, Kelurahan Sungai Daeng, Desa Air Belo, dan Kelurahan Tanjung di Kecamatan Muntok sebelum api akhirnya berhasil dipadamkan.
Karhutla juga terjadi di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, dengan luas lahan terdampak sekitar sembilan hektare. Kebakaran yang dilaporkan sejak Kamis pagi tersebut mencakup sekitar delapan hektare di Desa Mangkupadi, Kecamatan Tanjung Palas Timur, dan sekitar satu hektare di Kelurahan Tanjung Selor Timur, Kecamatan Tanjung Selor. Tim gabungan melakukan pemadaman sekaligus pendinginan untuk memastikan tidak terdapat bara yang berpotensi kembali memicu api. Hingga Jumat, kebakaran telah berhasil dipadamkan dan petugas melanjutkan pemeriksaan terhadap area terdampak. Proses pendinginan menjadi bagian penting dalam penanganan karena material yang masih menyimpan panas dapat kembali terbakar ketika kondisi cuaca kering dan angin menguat. Situasi tersebut membuat patroli tetap diperlukan meskipun api secara visual sudah tidak terlihat.
Di Jawa Timur, kebakaran dilaporkan terjadi di Kabupaten Ponorogo dan berdampak terhadap sekitar empat hektare lahan. Lokasi kebakaran berada di RPH Bungkal, BKPH Ponorogo Timur, KPH Lawu DS, tepatnya di Desa Gunung Wari, Kecamatan Bungkal. Posisi kebakaran yang berada cukup jauh dari permukiman membuat tidak terdapat laporan mengenai dampak langsung terhadap rumah warga. Tim gabungan bersama petugas terkait melakukan pemantauan sekaligus kesiapsiagaan untuk mengantisipasi kemungkinan api meluas ke kawasan lainnya. Kebakaran tersebut berhasil dipadamkan pada Jumat, tetapi pengawasan tetap diperlukan untuk memastikan kondisi benar-benar aman. Penanganan di Ponorogo menunjukkan bahwa ancaman karhutla tidak hanya terkonsentrasi di Sumatera dan Kalimantan, tetapi juga dapat terjadi di kawasan hutan Pulau Jawa selama kondisi lahan mendukung munculnya kebakaran.
Sementara itu, penanganan lebih menantang terjadi di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, setelah kebakaran melanda kawasan Hutan Gunung Kendeng. Luas lahan yang terdampak berdasarkan pembaruan terakhir mencapai sekitar 13 hektare dan api belum sepenuhnya dapat dipadamkan. Medan serta akses menuju lokasi menjadi salah satu kendala yang harus dihadapi tim dalam melakukan penanganan. Area yang tercatat terdampak berada di Desa Malotong, Kecamatan Ampana, serta Desa Sukamaju dan Desa Balingara di Kecamatan Ampana Tete. Petugas harus terus memperhatikan arah penjalaran api untuk mencegah kebakaran bergerak lebih luas menuju kawasan gunung maupun mendekati permukiman. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa karakter medan menjadi faktor penting dalam menentukan kecepatan dan metode pemadaman karhutla di setiap daerah.
Di luar kejadian baru tersebut, perhatian besar masih diarahkan ke enam provinsi prioritas yang menghadapi risiko dan dampak karhutla lebih luas. Riau menjadi salah satu wilayah dengan luas lahan terbakar terbesar, yakni sekitar 18.882,16 hektare sejak 1 Januari hingga 4 September 2026. Kebakaran tercatat tersebar di 10 kabupaten dan dua kota sehingga penanganannya membutuhkan dukungan darat dan udara secara bersamaan. Operasi dilakukan melalui pemadaman darat, patroli udara, water bombing, hingga Operasi Modifikasi Cuaca. Dukungan udara mencakup satu helikopter patroli, satu pesawat untuk patroli sekaligus operasi modifikasi cuaca, serta lima helikopter water bombing. Sejumlah lokasi bergambut masih membutuhkan pemadaman dan pendinginan karena karakter gambut memungkinkan api bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul setelah bagian atas terlihat padam.
Sumatera Selatan juga menghadapi kondisi yang membutuhkan perhatian setelah luas lahan terbakar mencapai sekitar 1.926,23 hektare berdasarkan pembaruan 3 September. Pemantauan satelit mendeteksi 92 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, 1.424 titik dengan tingkat kepercayaan sedang, serta 40 titik dengan tingkat kepercayaan rendah. Dampak kebakaran juga mulai berkaitan dengan kondisi kualitas udara karena sejumlah wilayah berada pada kategori sedang hingga sangat tidak sehat, sementara jarak pandang tercatat tujuh kilometer atau kurang pada beberapa lokasi. Kabupaten Ogan Komering Ilir, Banyuasin, dan Musi Banyuasin ditempatkan sebagai wilayah prioritas tinggi dalam pemetaan penanganan. Muara Enim, OKU Timur, Ogan Ilir, Musi Rawas, dan Musi Rawas Utara juga menjadi bagian dari wilayah yang mendapatkan perhatian. Dukungan peralatan telah disalurkan berupa kendaraan pemadam, pompa, alat pelindung diri, tangki fleksibel, serta selang untuk memperkuat operasi darat.
Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat juga masih berada dalam fokus penanganan karena kondisi karhutla belum sepenuhnya mereda. Jambi telah menetapkan status siaga darurat karhutla sejak 27 April hingga 30 November 2026, sementara pemantauan pada 3 September menunjukkan terdapat 266 titik panas di provinsi tersebut. Kalimantan Tengah memiliki status siaga darurat tingkat provinsi hingga 31 Oktober dengan sejumlah kabupaten dan kota turut menetapkan status penanganan. Kalimantan Selatan menetapkan siaga darurat karhutla dan kekeringan sejak 6 Juli hingga 31 Oktober, sedangkan Kalimantan Barat memiliki status siaga darurat tingkat provinsi sejak Februari hingga 15 November. Perbedaan masa status tersebut menunjukkan pemerintah daerah menyesuaikan kesiapsiagaan berdasarkan karakter risiko dan perkembangan kebakaran di masing-masing wilayah. Penguatan operasi dilakukan secara berlapis agar titik api baru dapat ditemukan dan ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran berskala besar.
Operasi penanganan karhutla kini menggabungkan kekuatan darat dengan dukungan udara sesuai kebutuhan dan kondisi meteorologi. Petugas darat melakukan pemadaman, pembuatan sekat, patroli, dan pendinginan, sedangkan armada udara digunakan untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses serta membantu pemadaman dengan water bombing. Operasi Modifikasi Cuaca juga digunakan di sejumlah wilayah ketika kondisi atmosfer memungkinkan pembentukan atau pertumbuhan awan hujan. Namun, efektivitas metode tersebut sangat bergantung pada ketersediaan awan yang memenuhi persyaratan sehingga tidak setiap penerbangan dapat menghasilkan hujan. Di Jambi, misalnya, operasi modifikasi cuaca selama periode 26 Agustus hingga 2 September telah melibatkan delapan sorti dengan penggunaan sekitar 8.000 kilogram natrium klorida, tetapi kondisi atmosfer belum mendukung terbentuknya hujan yang diharapkan. Karena itu, kekuatan darat tetap menjadi komponen utama untuk melakukan pemadaman langsung dan menjaga lokasi yang sudah ditangani.
Dominasi karhutla hingga akhir pekan membuat kewaspadaan masyarakat tetap diperlukan selama kondisi kemarau dan lahan kering masih berlangsung. Pemerintah daerah diminta meningkatkan patroli pada kawasan yang masuk kategori mudah hingga sangat mudah terbakar serta memastikan sumber daya pemadaman dapat segera dikerahkan ketika ditemukan titik api. Masyarakat juga diminta tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar karena api dapat dengan cepat menyebar ketika kondisi vegetasi kering dan angin cukup kuat. Setiap kepulan asap atau titik api yang ditemukan perlu segera dilaporkan agar penanganan dapat dilakukan sebelum kebakaran berkembang semakin luas. Pendinginan terhadap lahan yang telah terbakar juga tetap menjadi perhatian, khususnya pada kawasan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan. Dengan enam provinsi masih menjadi prioritas nasional, operasi penanganan karhutla diperkirakan terus diperkuat sampai kondisi cuaca dan tingkat kerawanan kebakaran menunjukkan perbaikan.