Jakarta, 28 Agustus 2026 – Kekhawatiran mengenai radiasi handphone yang disebut dapat memicu kanker masih kerap muncul di masyarakat. Namun, berdasarkan bukti ilmiah yang tersedia hingga saat ini, belum ada bukti kuat bahwa penggunaan telepon genggam menyebabkan kanker pada manusia. Kementerian Kesehatan juga menjelaskan bahwa radiasi yang dipancarkan telepon genggam memiliki energi dan frekuensi rendah sehingga tidak sampai menyebabkan mutasi gen pada sel tubuh.
Radiasi dari handphone termasuk radiofrequency (RF) radiation, yakni radiasi elektromagnetik non-ionisasi. Berbeda dengan sinar-X dan radiasi ionisasi lainnya yang memiliki energi cukup tinggi untuk merusak DNA, energi RF dari telepon genggam terlalu rendah untuk merusak DNA secara langsung.
Beda Radiasi Handphone dan Sinar-X
Salah satu penyebab munculnya kekhawatiran adalah penggunaan istilah “radiasi” untuk berbagai jenis gelombang elektromagnetik. Padahal, tidak semua radiasi memiliki karakteristik dan tingkat energi yang sama.
Sinar-X merupakan radiasi ionisasi yang memiliki energi tinggi dan dapat merusak materi genetik. Sementara itu, gelombang radio yang digunakan handphone berada pada kategori non-ionisasi dengan energi jauh lebih rendah.
Karena perbedaan tersebut, paparan radiasi handphone tidak dapat disamakan dengan paparan sinar-X atau radiasi yang digunakan dalam terapi kanker.
Penelitian Belum Menemukan Hubungan dengan Kanker
National Cancer Institute (NCI) menyebut berbagai penelitian epidemiologi telah dilakukan untuk mencari hubungan antara penggunaan handphone dan kanker, termasuk glioma, meningioma, serta tumor saraf pendengaran.
Secara keseluruhan, penelitian besar tidak menunjukkan hubungan antara penggunaan telepon genggam dan peningkatan risiko kanker otak. Studi dengan jumlah peserta besar juga tidak menemukan peningkatan risiko pada pengguna dengan riwayat penggunaan dalam jangka panjang.
NCI juga mencatat bahwa angka kejadian tumor otak tidak menunjukkan peningkatan yang sejalan dengan meningkatnya penggunaan handphone selama beberapa dekade.
Mengapa Masih Ada Kekhawatiran?
Pada 2011, badan penelitian kanker WHO, International Agency for Research on Cancer (IARC), mengklasifikasikan penggunaan telepon genggam dan paparan radiasi radiofrekuensi sebagai “possibly carcinogenic to humans” atau kemungkinan karsinogenik bagi manusia.
Klasifikasi tersebut bukan berarti handphone terbukti menyebabkan kanker. Kategori tersebut digunakan karena pada saat itu terdapat bukti terbatas dan sejumlah hasil penelitian yang belum konsisten, sehingga kemungkinan hubungan tersebut belum dapat sepenuhnya dikesampingkan.
Seiring bertambahnya penelitian, sebagian besar bukti epidemiologi hingga kini tidak menunjukkan adanya peningkatan risiko kanker akibat penggunaan handphone.
Tetap Bisa Mengurangi Paparan
Meski belum terbukti menyebabkan kanker, orang yang ingin mengurangi paparan RF tetap dapat melakukan beberapa langkah sederhana.
Penggunaan speakerphone atau earphone dapat membuat jarak handphone dengan kepala menjadi lebih jauh. Waktu menelepon juga dapat dikurangi, sementara melakukan panggilan ketika sinyal sangat lemah sebaiknya dihindari karena perangkat dapat meningkatkan daya transmisi.
Langkah tersebut lebih merupakan cara untuk mengurangi paparan RF, bukan karena handphone telah terbukti menyebabkan kanker.
Jadi, Apakah Handphone Aman?
Berdasarkan bukti yang tersedia saat ini, belum ada bukti ilmiah yang meyakinkan bahwa radiasi handphone menyebabkan kanker. Kementerian Kesehatan maupun lembaga penelitian kanker internasional menyatakan bahwa radiasi radiofrekuensi dari telepon genggam merupakan radiasi non-ionisasi dengan energi rendah.
Meski demikian, penelitian mengenai dampak paparan jangka panjang tetap dilakukan. Masyarakat juga dapat menerapkan kebiasaan penggunaan yang lebih bijak, seperti mengurangi durasi panggilan dan menjaga jarak perangkat dari tubuh ketika memungkinkan.
Kesimpulannya, anggapan bahwa radiasi handphone terbukti menyebabkan kanker tidak didukung oleh bukti ilmiah terbaik yang tersedia saat ini. Radiasi handphone berbeda dari radiasi ionisasi seperti sinar-X karena energinya jauh lebih rendah dan tidak diketahui merusak DNA secara langsung.