Cebu, 29 Oktober 2026 – Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth mengusulkan pembentukan kerangka kerja sama pertahanan yang lebih ambisius bersama 11 negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Usulan tersebut disampaikan dalam pertemuan para menteri pertahanan ASEAN di Cebu, Filipina, pada Rabu (28/10/2026). Hegseth menilai kerja sama keamanan antara Washington dan negara-negara Asia Tenggara perlu diperkuat untuk menghadapi berbagai tantangan strategis dalam beberapa tahun mendatang. Amerika Serikat menginginkan kerangka kerja praktis yang dapat menjadi pedoman bagi kegiatan pertahanan bersama secara berkelanjutan. Inisiatif tersebut juga menjadi bagian dari komitmen Washington untuk mempertahankan keterlibatannya dalam menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Melalui pendekatan baru ini, Amerika Serikat berharap hubungan pertahanan dengan ASEAN dapat menghasilkan kerja sama yang lebih konkret dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing negara.
ANTARA News
+1
Hegseth menyampaikan bahwa tahun 2027 akan menjadi momentum penting karena menandai peringatan 50 tahun hubungan resmi antara Amerika Serikat dan ASEAN. Menurutnya, pencapaian tersebut seharusnya dimanfaatkan untuk memperluas hubungan kedua pihak, khususnya dalam bidang keamanan dan pertahanan. Ia mengusulkan penyusunan kerangka kerja sama yang mampu memberikan arah bagi kegiatan bersama selama beberapa tahun berikutnya. Dokumen tersebut diharapkan tidak hanya memuat komitmen diplomatik, tetapi juga menjadi landasan bagi program pertahanan yang dapat dilaksanakan secara nyata. Hegseth menilai periode mendatang akan menjadi masa penting bagi keamanan kawasan sehingga negara-negara perlu mempersiapkan mekanisme kerja sama yang lebih efektif. Meski demikian, rincian lengkap mengenai bentuk, cakupan, dan pelaksanaan kerangka kerja sama tersebut belum diumumkan dalam pertemuan di Cebu.
Philstar
+1
Dalam pidatonya, Hegseth menggambarkan pendekatan pertahanan Amerika Serikat di kawasan sebagai kebijakan yang mengutamakan kekuatan, ketenangan, dan kejelasan. Ia menjelaskan bahwa kemampuan pertahanan harus cukup kuat untuk mencegah tindakan pemaksaan maupun agresi dari pihak mana pun. Namun, penggunaan kekuatan tersebut juga perlu disertai pengendalian diri agar tidak menimbulkan peningkatan ketegangan yang sebenarnya dapat dihindari. Washington menginginkan tindakan nyata dalam kerja sama keamanan menjadi bukti komitmen dibandingkan pernyataan politik yang berpotensi memperkeruh situasi. Pendekatan tersebut mencerminkan upaya Amerika Serikat mempertahankan kemampuan pencegahan konflik sambil membuka ruang komunikasi dengan berbagai negara. Hegseth menegaskan bahwa stabilitas kawasan membutuhkan keseimbangan antara kesiapan pertahanan dan upaya diplomatik untuk mencegah perselisihan berkembang menjadi konflik terbuka.
CNA
+1
Amerika Serikat juga mengakui bahwa negara-negara ASEAN tidak selalu memiliki pandangan yang sama dalam menghadapi persoalan keamanan internasional. Hegseth menyatakan bahwa perbedaan sikap tersebut tidak harus menjadi penghalang bagi pengembangan kerja sama pertahanan yang bermanfaat. Menurutnya, kesepahaman mengenai prinsip-prinsip dasar sudah cukup untuk mendukung kegiatan bersama dalam bidang yang memiliki kepentingan serupa. Washington ingin membangun hubungan yang mempertimbangkan kebutuhan, keadaan, dan prioritas setiap negara anggota ASEAN. Pendekatan ini memungkinkan kerja sama dilakukan secara fleksibel tanpa mengharuskan seluruh negara mengambil kebijakan pertahanan yang identik. Dengan demikian, Amerika Serikat berharap dapat memperluas kemitraan keamanan sekaligus menghormati perbedaan kepentingan nasional di kawasan Asia Tenggara.
Awani International
+1
Salah satu bidang yang menjadi perhatian utama dalam usulan tersebut adalah peningkatan kemampuan pemantauan wilayah maritim. Hegseth menyoroti pentingnya memperkuat pertukaran informasi mengenai aktivitas di laut agar negara-negara kawasan memiliki pemahaman situasi yang lebih baik. Kerja sama juga diarahkan pada peningkatan interoperabilitas atau kemampuan berbagai angkatan bersenjata untuk menjalankan kegiatan bersama secara efektif. Selain itu, koordinasi antarmatra laut menjadi bagian dari prioritas yang disampaikan Washington dalam pertemuan tersebut. Latihan bersama, pertukaran pengalaman, dan peningkatan kemampuan perencanaan dapat menjadi sarana memperkuat kesiapan menghadapi ancaman keamanan. Amerika Serikat menilai kegiatan praktis semacam itu dapat membangun kepercayaan sekaligus mengurangi risiko kesalahpahaman ketika negara-negara menghadapi situasi yang berpotensi menimbulkan ketegangan.
Philstar
+1
Perhatian terhadap keamanan maritim tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan di kawasan Laut China Selatan yang menjadi jalur penting bagi perdagangan internasional. Filipina dan China dalam beberapa tahun terakhir terlibat perselisihan mengenai aktivitas kapal di sejumlah wilayah perairan yang disengketakan. Perbedaan klaim dan meningkatnya kehadiran aparat maritim menjadi tantangan bagi upaya menjaga keamanan serta kebebasan navigasi. Amerika Serikat memiliki hubungan pertahanan yang erat dengan Filipina dan terus menyampaikan komitmen terhadap keamanan sekutunya tersebut. Di sisi lain, ASEAN memiliki kepentingan untuk mempertahankan stabilitas kawasan tanpa menjadikan Asia Tenggara sebagai tempat meningkatnya persaingan militer negara-negara besar. Kondisi tersebut membuat pengembangan kerja sama pertahanan perlu mempertimbangkan keseimbangan antara kemampuan pencegahan konflik, penghormatan terhadap hukum internasional, dan penyelesaian perselisihan secara damai.
Reuters
+1
Pertemuan di Cebu juga menarik perhatian karena China tidak mengirimkan Menteri Pertahanan Dong Jun untuk menghadiri rangkaian pertemuan ASEAN Defence Ministers’ Meeting Plus atau ADMM-Plus. Pemerintah Beijing memilih menugaskan atase pertahanan dari Kedutaan Besar China di Manila sebagai perwakilannya. Kehadiran pada tingkat tersebut lebih rendah dibandingkan partisipasi menteri pertahanan yang biasanya dilakukan dalam forum kerja sama regional. Meski demikian, alasan resmi mengenai keputusan China tersebut tidak dijelaskan secara terperinci dalam laporan pertemuan. ADMM-Plus sendiri merupakan forum yang mempertemukan negara-negara ASEAN dengan mitra dialog untuk membahas berbagai persoalan keamanan bersama. Selain Amerika Serikat dan China, forum tersebut juga melibatkan negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, dan India dalam pengembangan kerja sama pertahanan kawasan.
ANTARA News
+1
Hegseth menyampaikan bahwa Amerika Serikat akan bekerja sama dengan Singapura dalam menyusun kerangka pertahanan yang diusulkan. Singapura dijadwalkan mengambil peran kepemimpinan ASEAN pada 2027 sehingga memiliki posisi penting dalam memfasilitasi pembahasan lanjutan. Kerja sama dengan negara tersebut diharapkan dapat membantu menyelaraskan usulan Washington dengan agenda dan mekanisme pertahanan ASEAN. Pemerintah Amerika Serikat juga menyatakan kesiapan melakukan pembicaraan dengan negara-negara anggota secara individual berdasarkan kebutuhan masing-masing. Langkah tersebut dapat membuka peluang pengembangan program yang lebih spesifik dalam bidang keamanan maritim, pelatihan militer, dan peningkatan kemampuan operasional. Namun, bentuk kesepakatan akhir tetap memerlukan pembahasan bersama agar sesuai dengan prinsip dan prioritas organisasi kawasan.
Philstar
+1
Menteri Pertahanan Filipina Gilberto Teodoro Jr. menyambut keterlibatan Amerika Serikat dalam pembahasan keamanan kawasan. Sebagai tuan rumah sekaligus pemimpin pertemuan pertahanan ASEAN tahun ini, Filipina menilai kehadiran Washington memiliki peran dalam menjaga stabilitas Indo-Pasifik. Teodoro juga menyoroti pentingnya kebebasan navigasi serta kerja sama yang mampu menghasilkan manfaat nyata bagi negara-negara anggota. Sejumlah kegiatan yang telah dilaksanakan sebelumnya menjadi contoh, termasuk latihan maritim ASEAN-Amerika Serikat dan kerja sama dalam bidang kesehatan militer serta penanganan bencana. Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn turut mengikuti pertemuan informal para menteri pertahanan ASEAN dan Amerika Serikat di Cebu. Pembahasan tersebut mencakup tantangan yang dihadapi kawasan Indo-Pasifik serta peluang memperluas kerja sama pertahanan praktis antara kedua pihak.
Carmel Pedroza
+1
Usulan kerja sama pertahanan yang lebih ambisius dari Amerika Serikat menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian pertemuan pertahanan ASEAN pada 28–29 Oktober 2026. Washington berupaya memanfaatkan momentum menjelang 50 tahun hubungan ASEAN-Amerika Serikat untuk membangun kerangka kemitraan keamanan yang lebih terarah. Bidang yang mendapat perhatian meliputi pemantauan wilayah laut, peningkatan kemampuan kerja sama antarmiliter, serta penguatan koordinasi menghadapi ancaman regional. Namun, keberhasilan inisiatif tersebut akan bergantung pada kesepakatan mengenai prioritas, bentuk pelaksanaan, dan penghormatan terhadap kepentingan masing-masing negara anggota. ASEAN juga tetap memiliki peran utama dalam menentukan arah kerja sama keamanan dengan berbagai mitra internasional. Pembahasan lanjutan bersama Singapura dan negara-negara ASEAN lainnya akan menjadi tahap penting untuk melihat bagaimana usulan tersebut diterjemahkan menjadi program pertahanan yang nyata dan berkelanjutan.
ASEAN Main Portal
+1