Jakarta, 18 Mei 2026 – Aktivitas pengecatan duco di bengkel-bengkel pinggir jalan kembali menjadi perhatian setelah muncul kekhawatiran mengenai ancaman kesehatan yang dihadapi para pekerjanya. Di balik warna mengilap dan hasil finishing kendaraan yang menarik, para pekerja cat duco disebut setiap hari terpapar berbagai zat kimia berbahaya yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit serius, termasuk kanker. Banyak pekerja di sektor informal tersebut menjalankan aktivitas tanpa perlindungan kesehatan memadai seperti masker khusus, ventilasi yang baik, maupun pemeriksaan kesehatan rutin. Kondisi itu membuat risiko paparan bahan kimia menjadi semakin tinggi terutama bagi pekerja yang telah bertahun-tahun bekerja di lingkungan penuh asap dan uap cat.
Pengamat kesehatan kerja menjelaskan cat duco dan bahan pelarut yang digunakan dalam proses pengecatan kendaraan umumnya mengandung senyawa kimia seperti thinner, benzena, formaldehida, hingga partikel logam tertentu yang berbahaya apabila terhirup terus-menerus. Paparan jangka panjang terhadap zat tersebut dapat memengaruhi sistem pernapasan, hati, saraf, hingga meningkatkan risiko kanker tertentu. Dalam banyak kasus, pekerja informal sering tidak menyadari bahaya yang mereka hadapi karena efek kesehatan biasanya muncul secara perlahan setelah bertahun-tahun bekerja. Selain risiko kanker, keluhan seperti pusing, sesak napas, iritasi mata, dan gangguan kulit juga cukup sering dialami pekerja pengecatan kendaraan.
Selain minim perlindungan, kondisi tempat kerja yang terbuka di pinggir jalan juga membuat paparan zat kimia semakin sulit dikendalikan. Pengamat lingkungan kerja menjelaskan bengkel kecil informal umumnya tidak memiliki sistem ventilasi dan filtrasi udara yang sesuai standar industri sehingga uap bahan kimia langsung tersebar di area kerja dan lingkungan sekitar. Dalam situasi seperti itu, pekerja dan masyarakat sekitar sama-sama berisiko menghirup partikel berbahaya yang berasal dari proses pengecatan. Karena itu, aspek keselamatan kerja di sektor informal dinilai masih menjadi persoalan besar yang membutuhkan perhatian lebih serius.
Di sisi lain, banyak pekerja cat duco tetap menjalani pekerjaan tersebut karena keterbatasan pilihan ekonomi dan kebutuhan mencari nafkah. Pengamat sosial menjelaskan sektor bengkel informal menjadi sumber penghasilan bagi banyak keluarga di perkotaan dan daerah berkembang. Namun minimnya akses terhadap perlindungan tenaga kerja, edukasi kesehatan, dan fasilitas keselamatan membuat para pekerja sering berada dalam posisi rentan terhadap risiko penyakit akibat pekerjaan. Karena itu, peningkatan kesadaran dan dukungan terhadap keselamatan kerja di sektor informal dianggap penting agar pekerja tetap dapat mencari nafkah tanpa mengorbankan kesehatan jangka panjang mereka.
Fenomena pekerja cat duco pinggir jalan yang menghadapi ancaman kesehatan serius kini menjadi pengingat mengenai pentingnya perlindungan kerja di sektor informal Indonesia. Banyak pihak berharap pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dapat lebih memperhatikan aspek kesehatan dan keselamatan pekerja yang selama ini sering terabaikan. Di tengah pertumbuhan sektor jasa otomotif yang terus berkembang, penggunaan perlindungan kerja dan edukasi mengenai bahaya bahan kimia dinilai akan menjadi langkah penting untuk mencegah meningkatnya risiko penyakit serius di kalangan pekerja bengkel informal.